Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan dibawah ini:
1. Wanita, Auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita, Perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita, Saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita, Menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita, Perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita, Wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak, Terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita, Kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.
Itu sebabnya, Mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA". Tapi, pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?
Membentuk pribadi muslimah ITS yang berakhlaqul karimah melalui pembinaan dan syiar kemuslimahan serta meningkatkan koordinasi keputrian dalam jaringan kemuslimahan
Wednesday, September 28, 2011
Saturday, September 24, 2011
Tuesday, September 13, 2011
Dilema Hijab
Oleh Andri
Hijab, jilbab kini tidak lagi menjadi dominasi ibu-ibu pengajian, aktivis kampus, dan gadis mungil yang sedang mengaji di surau. Ia telah bertransformasi masuk ke setiap celah aktivitas seorang Muslimah. Tidak sulit menemukan seorang wanita mengenakan jilbab atau yang mereka sebut jilbab. Mulai dari karyawan di kantor, atlet olahraga, hingga jurnalis dengan segala dinamikanya tidak ragu dan segan lagi untuk menunjukkan eksistensinya sebagai seorang Muslimah.
Jilbab yang diperintahkan oleh Allah dalam surat An-Nur sudah tidak lagi mendapatkan stereotip eksklusif dan kuno. Preseden seperti itu telah lama ditinggalkan dengan semakin bermunculannya komunitas hijab yang semakin mengukuhkan jilbab sebgai sebuah dimensi kebebasan seorang Muslimah.
Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…" (QS. An-Nur [24] : 31)
Hijab, jilbab kini tidak lagi menjadi dominasi ibu-ibu pengajian, aktivis kampus, dan gadis mungil yang sedang mengaji di surau. Ia telah bertransformasi masuk ke setiap celah aktivitas seorang Muslimah. Tidak sulit menemukan seorang wanita mengenakan jilbab atau yang mereka sebut jilbab. Mulai dari karyawan di kantor, atlet olahraga, hingga jurnalis dengan segala dinamikanya tidak ragu dan segan lagi untuk menunjukkan eksistensinya sebagai seorang Muslimah.
Jilbab yang diperintahkan oleh Allah dalam surat An-Nur sudah tidak lagi mendapatkan stereotip eksklusif dan kuno. Preseden seperti itu telah lama ditinggalkan dengan semakin bermunculannya komunitas hijab yang semakin mengukuhkan jilbab sebgai sebuah dimensi kebebasan seorang Muslimah.
Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…" (QS. An-Nur [24] : 31)
Subscribe to:
Comments (Atom)


