Pages

Friday, October 15, 2010

Cerpen "Menangis Dalam Kereta"

Menangis Dalam Kereta
Oleh
Dian Rahma L. H.

Pasundan Melaju. Menuju Yogyakarta raya jaya. Menyusuri tiap centi sisi tepi rel yang besinya mulai menua. Menyapa padi-padi di ladang yang mulai menguning bak warna keretanya. Dan kemudian berhenti sekejap. Mengundang para manusia yang berdendang di stasiun untuk mengembara di gerbong-gerbongnya.

Masih 6 jam lagi sang kereta berlari ke peraduan terakhirnya di lempuyangan. Terasa terlalu sebentar baginya. Bagi wanita paruh baya yang kini sedang duduk di sebuah bangku reyot kereta ekonomi pasundan. Ya amat sebentar baginya untuk mempersiapkan mental menghadapi sejuta memori di ambarketawang. Tangan kanannya menyangga kepala. Pusing. Mungkin begitu rasa yang mampir dikepalanya. Atau bahkan mungkin ia sedang berencana untuk mundur saja dari pertarungan batinnya. Antara kembali dan tidak. Antara berani dan tidak. Antara mau dan tidak. Antara siap dan tidak. Dan ia dapati “tidak” sebagai pemenang dalam pertempuran batinnya. Tapi kaki rapuhnya tak mau ia ajak beranjak. Pikirannya bertambah kalut. Bayang-bayang para manusia ambarketawang membundakkan emosinya.

“AAAAAAAARRRRRRRGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHH…..”, teriaknya.
“Nalar, Nalar. Ada apa, nak? Manda disini. ”, seorang wanita renta duduk disamping tempat boboknya. Mencoba menenangkan.
“Manda…Nalar mimpi buruk.”
Melihat Bundanya berkaca-kaca, Nalar urung menceritakan mimpi yang sangat mendekap erat tidur malamnya yang singkat.

“Wajah Manda Pucat. Tubuh Manda dibalut kain putih. Kemudian orang-orang berdatangan. Memeluk tubuh Nalar yang masih setinggi 80 centi. Dan dalam sekejap, banyak laki-laki mengusung tubuh Manda. Katanya, mereka mau membawa Manda ke tempat yang sangat indah, dimana Manda sangat menyukainya. Mereka bilang, Manda akan bisa bertemu ayah dan opa. Tapi, ketika orang-orang berhenti di tempat yang mereka maksud, Nalar tak melihat ayah. Nalar tak melihat benda-benda yang membuat tempat itu indah. Yang Nalar lihat hanyalah tempat serupa kuburan tua yang ada di ujung desa.”, Nalar berkata-kata dalam hatinya. Mencoba mengingat mimpi yang tak bisa ia ceritakan pada Bunda yang matanya sedang berkaca-kaca.

“Nalar bobok lagi ya..masih tengah malam. Manda temenin, biar Nalar ga’ mimpi buruk lagi. Dan jangan lupa berdoa dulu ya….”
Nalar berdoa, esok hari kan terang. Seterang siang yang benderang karena matahari yang tak malu-malu. Berdoa agar esok Bunda masih mendekap tubuh mungilnya. Nalar tertidur. 5 jam kemudian, sengat surya membuatnya membuka mata.
“Manda…Manda…Mandaaaaa”, teriaknya.
Bunda tak terlihat. Bayangannya pun tak terpantul di retina Nalar. Ia takut. Takut akan doa yang tak terkabulkan.
“Ada apa Nalar? Manda di sini. Ayo nak, lekas bangun, bantuin bunda.”
Hati Nalar tenang, namun tetap merasa tak enak. Entahlah. Batinnya.
“Manda ke pasar dulu. Nalar jaga rumah sebentar ya”
Nalar menganggukkan kepalanya. Menuruti apa kata bunda. Namun, saat itu tak pernah ia menyangka bahwa ini adalah anggukan terakhirnya pada bunda. Ya, terakhir. Karena sang bunda pulang kembali ke rumah tanpa membawa nyawa. Hanya raga saja, dan itupun diusung oleh 3 laki-laki tak dikenal.

Tak tahu yang terjadi, Nalar mendekati raga bunda yang ia lihat tak bergerak sedikitpun.
“Seperti mimpi Nalar semalam. Manda dibalut kain putih.”
Namun sedikit berbeda. Batinnya bergumam. Nalar tak melihat wajah pucat sang bunda. Yang ia lihat adalah wajah wanita yang tak lagi bisa ia kenali. Wajahnya rusak, penuh bekas darah dan jahitan.

“Kenapa wajah Manda?”
Gadis kecil berumur 4 tahun itu bertanya, tanpa ada seorang pelayat pun yang sanggup menjawab dengan kata-kata. Hanya dekapan kecil yang mereka berikan. Dekapan-dekapan yang bahkan tak hangat sama sekali bagi Nalar.

“Mau dibawa kemana Manda?”
Tanya nya lagi. Persis dengan mimpinya semalam. Mereka menjawab bahwa bunda akan di bawa ke tempat yang indah, dimana bunda bisa bertemu ayah. Tiada satu tetes pun airmata yang menghiasi perjalanannya menuju tempat tujuan. Dan rombongan berhenti, di sebuah pemakaman tua di ujung desa.

“Manda tak akan pernah pulang lagi. Sama seperti di mimpi.”, bisiknya pada hembusan angin dari dedaunan kamboja yang menghiasi pekuburan.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttt…………

Kereta berhenti. Remnya yang sedikit mendadak, membuat tubuh wanita paruh baya itu sedikit terjungkal ke depan. Namun tak apa. Ia menyeka keringatnya, dengan sapu tangan lusuh yang dari tadi digenggamnya. Kemudian dilihatnya jam dinding yang tak sebesar gadang yang bersandar di salah satu tiang stasiun.

“4 jam lagi.”, desahnya.
Kiranya si Sumobito tak menyetor banyak penumpang hingga pasundan hanya berisitirahat 5 menit saja, lalu kembali melaju. Melewati rumah-rumah bak onggokan sampah kardus yang di tata rapi.

----------||----------

“Oek..oek..oek…oek…”, Anaknya lahir dengan selamat. Setelah 7 jam ia berjuang melawan maut di pembaringan rumahnya yang reot. Kini berarti Nalar tlah beranak lima, di usianya yang hampir menginjak kepala 4. Tanpa suami disampingnya. Tanpa suami yang tlah meninggalkannya dalam jemu keabadian karena tertabrak kereta semalam.

Kali inipun, air mata tak menghiasi kepergian lelaki pertama yang dikasihinya. Tak sempat untuk menangis. Mungkin Tuhan mewakilkan tangis sedihnya pada bayi yang baru ia lahirkan. Pada bayi laki-laki mungil yang ia namai Juang.

Tanpa sempat pula tuk sekedar menidurkan raga selama 24 jam, pagi buta ia tlah terbangun. Menggodok air yang semalam ditimba tetangganya. Ia seduh teh gopek yang diwadahkannya dalam teko tua peninggalan Manda. Ia jual seduhan itu di warung tua bekas warung Manda pula. Ditemani gorengan tempe dan tahu, cukup ramai laki-laki yang bercengkrama dalam warung. Mengobrolkan kasus reformasi yang bahkan tak Nalar pahami, atau mengobrolkan peperangan Irak-Amerika yang sama sekali tak Nalar gubris. Atau mengobrolkan matinya anak-anak di Palestina yang bagi Nalar itu hal biasa. Terserahlah. Batinnya.

Malam harinya, Nalar dewasa ini pun jarang terninabobokkan oleh hening malam. Bayi juang calon pejuang terus menangis. Seakan terus menuntut ASI yang bahkan tak bisa ia berikan. Belum lagi rengekan anak keduanya yang ingin buang air di malam hari, yang butuh papahan ibunya, karena ia lahir tanpa kaki. Ditambah rintihan si sulung tiap malam karena sakit yang ia rasakan pada perut buncitnya.
Keadaan malam Nalar pun akan semakin carut jika anak ketiga nya menangis, terbangun karena terganggu kegaduhan saudaranya. Meski begitu Nalar tetap bersyukur, setidaknya anak keempatnya tak kan pernah terganggu meski kegaduhan terus menghantui kehidupan malam di rumah reyot peninggalan Manda, karena telinganya yang tuli.

Namun, di suatu malam. Sungguh langka keheningan menghampiri rumah reyot itu. Tiada tangis si kecil Juang, tiada rengekan anak keduanya, si sulung pun tak merintih. Kiranya mereka ikut bersedih seperti Nalar atas kepergian saudaranya. Sang anak ketiga yang meninggal tenggelam saat mandi di sungai. Dan lagi-lagi air mata tak menemani rasa kehilangannya. Tak ada waktu. Begitu pikirnya. Malam ini ia sudah harus bersiap menimba air sumur untuk digodok esok fajar. Dan ia pun harus menyelesaikan pembuatan adonan tempe dan tahu goreng untuk ia jual di pagi hari. Kalau tidak begini, tidak ada uang untuk bayar hutang persalinan kelimanya.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttt

Kereta tiba-tiba kembali berhenti kedua kalinya. Kini Pasundan singgah agak lama di stasiun Madiun. Membuat wanita paruh baya itu sedikit bernafas lega. Setidaknya, ia punya tambahan waktu untuk mempersiapkan mentalnya sebelum sampai di Ambarketawang. Jubelan penumpang yang memenuhi gerbong kereta pun tak dihiraukannya. Baginya yang amat penting saat ini adalah, persiapan mentalnya harus sampai 100%. `Pedagang asongan yang menawarkan kopi panas pun tak ia acuhkan. Wanita paruh baya itu terus berkonsentrasi pada peningkatan mentalnya hingga Pasundan kembali meneruskan sepak terjangnya menuju Lempuyangan.

----------||----------

Warung tua Nalar raib dalam waktu tak lebih dari 10 menit. Warung dari jerami itu ludes terbakar api yang mengganas di tengah badai malam yang melanda wates. Jantung Nalar serasa berhenti. Entah kata apa yang bisa menggambarkan rasanya. Kalut, carut, marut, kacau, galau, risau, bingung, linglung, pusing dan pening. Namun apakah Nalar menangis? Tidak. Mungkin itu jawaban yang mengesalkan dan membuat bumi kecewa. Kecewa karena harapannya tuk menadah airmata Nalar terpupus sudah. Hemat air. Begitu pikir Nalar. Baginya air mata - air mata itu akan sangat berguna bagi tambahan stock keringat yang akan ia kucurkan untuk proses berpikir kerasnya. Ya berpikir keras untuk mencari 1001 cara demi menghidupi diri dan keempat anaknya.

` Tangis yang ditahannya membuahkan hasil. Proses berpikirnya pun tak terlalu keras seperti yang ia bayangkan. Esoknya, ia sudah temukan sumber penghidupan baru. Mengais sampah. Menjadi pemulung seperti alamarhum suaminya. Sungguh Nalar bersyukur pada Tuhan atas yang telah Ia berikan.Sebab kini ia tak harus bangun sedini pagi-pagi biasanya. Para pemulung biasa beraktivitas di atas jam 6. Namun kembali ke rumah di atas jam 6, dan tak membawa pulang uang lebih dari enam ribu tiap harinya. Dan Nalar merasa lebih lelah dari pada hari-hari sebelumnya. Hari-hari dimana warung reyot itu masih berdiri. Tapi tak ia rasakan. Baginya, yang penting ia dan keempat anaknya bisa hidup, meski dari sisa-sisa nasi aking.

Ia terus bertahan dengan keadaan hidup yang mungkin dirasa bumi sangat mengenaskan. Kakinya yang tak pernah menginjak bagian tubuh bumi yang lain, hanya menginjak bagian tubuh bumi yang dipenuhi sampah saja. Ia bertahan, sampai pada suatu siang yang amat panas, yang membuat peluhnya keluar dari ari bak banjir bah. Ia harus pulang lebih awal. Ia harus pulang siang itu juga, meski belum ada uang sepeserpun dalam genggamannya.

Ia dapati rumah tua peninggalan Manda penuh dengan para tetangga yang menatap ke arahnya dengan melas dan penuh iba. Dan Nalar pun melangkah gontai memasuki rumah sembari tetap menegakkan bahunya. Dilihatnya 2 anak lelakinya, si sulung dan anak keduanya terbujur kaku. Tak bernyawa lagi. Mati karena suatu sebab yang bahkan tak ia ketahui.

“Sebegitu besarkah dosaku, wahai sang empunya jagad raya?”, batinnya menangis. Namun sekali lagi, hanya batinnya. Air mata kiranya benar-benar enggan keluar dari pintu kelopak mata Nalar. Dan kini bumi pun benar-benar kecewa. Dua kali sudah ia dikecewakannya. Dikecewakan Nalar yang tak kunjung meneteskan air matanya. Meski tangisan dan air mata Juang tlah mewakili ibunya, kiranya bumi tak puas.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttt

Entah berapa kali kereta itu tlah berhenti. Sang wanita paruh baya itu tak sempat menghitungnya. Ia sibuk dengan lamunannya 50 tahun lalu. Namun bunyi rem kereta kali ini benar-benar tlah membuyarkan lamunan yang ia kira akan abadi. Membuyarkan bayang-bayang masa lalu yang menghinggapinya. Sampai ia sadar, tak setetespun air mata yang ia kucurkan dalam perjalanan hidupnya. Dan kini ia menangis. Tangis yang membuat satu dari dua kekecewaan bumi terobati. Entah berapa tetes banyaknya, hingga sanggup membuat kuyup sapu tangan lusuh yang dari tadi digenggamnya. Ya, Nalar namanya. Nama wanita paruh baya yang dilahirkan di pinggiran jalan Wates, Ambarketawang, tahun 1956. Nama wanita paruh baya yang dari tadi duduk di dalam sebuah bangku di kereta bernama Pasundan. Wanita paruh baya yang dari tadi mempersiapkan mentalnya tuk melihat Ambarketawang. Dan kemudian, ia menyeka air matanya. Cukup bagi bumi merasakan kepuasan. Pikirnya.

“Apakah aku tlah menjadi salah satu wanita terhebat di dunia ini, wahai Tuhan yang jiwa dan ragaku ada dalam genggamanMu?”, batinnya lagi.
“Ataukah aku orang papa yang sombong hingga tak mau meneteskan air mata meski sekali saja?”, gumamnya.
“Tapi bukankah di luar jalan takdir ku yang bagi bumi mungkin mengenaskan ini, masih banyak orang lain yang lebih menderita?”,gumamnya lagi.
“Bukankah masih banyak para ibu yang kehilangan suami dan sepuluh anaknya di Irak sana? Dan bukankah terlampau banyak wanita yang menjadi janda di daerah pertempuran Afghanistan?”, pikirnya.
“lantas, patutkah aku menangisi derita yang tiada seujung kukupun bila kubandingkan dengan mereka?”, tanyanya pada Tuhan.

Nalar berhenti bertanya, berhenti berpikir, berhenti bergumam. Baginya, tak perlu menjadi seorang kartini yang mencipta “habis gelap terbitlah terang” , untuk menjadi seorang wanita hebat. Tak perlu menjadi seperti Cut nyak dien yang berlaga untuk menjadi wanita perkasa. Ia pun tak berniat mecatatkan namanya di lembar sejarah peradaban manusia. Karena memang dunia peradaban ini tak meliriknya.

Baginya, di jalan takdirnya, menjadi manusia yang tak pernah merasa dirinya adalah manusia paling menderita ketika Tuhan mengujinya, sudah menjadikannya sebagai wanita hebat.
Baginya, berdamai dengan masalah adalah kunci untuk menggembok bui untuk memenjarakan air matanya.

Dan kini, lamunannya berakhir.
Perang batin pun berakhir.
Saat kereta pasundan tlah tiba di Lempuyangan.
Saat dimana bagian tubuh bumi di titik ini menjadi saksi rebahnya tubuh Nalar.
Saat dimana penantian tubuh bumi di titik Ambarketawang untuk disinggahi kaki nalar harus menjadi harapan yang tak kan pernah menjadi kenyataan.
Karena kenyataannya adalah, rebahnya tubuh Nalar yang mendekap Juang untuk selamanya di pintu gerbang Lempuyangan.

Cerpen "Ketegaran Hati Seorang Ibu"

Ketegaran Hati Seorang Ibu
Oleh
Khoirun Nikmah

Kuhirup udara pagi yang begitu sejuk dan segar. Kusibak kelambu abu-abu yang sejak satu bulan lalu belum kuganti. Kutengok ke tempat tidur, putriku masih tertidur lelap. Kubasuh mukaku dengan air wudhu yang sedikit membeku. Udara kota Lembang memang membuat orang malas berjalan dan bangun di pagi hari. Namun itu tidak bagiku, karena setiap waktu aku harus berjuang. Berjuang menghidupi keluargaku, khususnya putriku, Syahidah.

Setelah menunaikan shalat subuh sendiri, aku mengelus dan mengecup pipi putriku tersayang. Kelak, aku yakin dia akan menjadi wanita yang hebat. Walaupun kita dari keluarga miskin, tapi aku menaruh kepercayaan lebih padanya. Syahidah adalah amanah yang diberikan Robbku yang harus aku jaga walaupun dengan cucuran keringat dan darah.

Suamiku telah meninggal pada bulan Ramadhan tahun lalu. Kehidupan keluargaku tergolong miskin, namun hal itu tidak membuat perjuangan hidup kami luntur begitu saja. Aku sadar, bahwa tanpa kerja keras, pasti akan sia-sia hidup ini.
“Ummi.. Hidah ingin bantu ummi..” terdengar suara si kecil ketika melihatku sibuk mengaduk adonan kue yang akan kujajakan nanti siang.

“Hidah sayang.. Biar ummi saja yang mengerjakan. Sekarang Hidah pergi mengaji saja ya? Bukankah Hidah ada jadwal TPA ya?” tanyaku
Syahidah kecil mengangguk-angguk setuju dan kemudian melesat pergi dengan sepeda mininya. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah buah hatiku.

Terkadang, aku merasa bahwa hidup ini membosankan dan menyedihkan. Ingin rasanya segera pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Terkadang pula, aku merasa bahwa Dia tidak adil. Ingin mengeluh dan menangis. Tetapi aku segera sadar, bahwa setiap detik aku selalu diawasiNya dan dinilai olehNya, apakah aku sabar dalam menghadapi cobaan hidup atau tidak.

“Ratih.. kamu kenapa tidak mencari pendamping lagi? Bukankah kamu masih muda dan cantik? Pasti masih banyak ikhwan yang mau menjadikanmu istrinya” kata Yuni ketika aku bertemu dengannya di serambi masjid.

“Bukan tidak mau mencari pendamping, tapi aku harus membiayai putriku dan pastinya semua ini berat. Dan aku tidak mau meletakkan bebanku pada siapapun. Biarlah aku yang memikulnya. Yang terpenting adalah, aku bisa mencari rezeki yang halal dan toyyib. Perkara pendamping hidup lagi, aku tidak mau terburu-buru. Biarlah Allah yang mempertemukan” jawabku.

“O iya, kamu sekarang bekerja dimana ukht? Apa masih berjualan kue?”
“aku masih tetap berjualan kue, Yuni. Walaupun sedikit, tapi Alhamdulillah masih bisa kugunakan untuk makan bersama Syahidah”
“Kenapa tidak melamar pekerjaan saja? Mungkin saja bisa memiliki penghasilan yang jelas.”

“aku tidak mempunyai ijazah tinggi Yuni.. Kamu tau sendiri kan, aku ini lulusan Tsanawiyah dan hanya mempunyai kemampuan baca tulis saja”
“Oh, ya sudah kalau begitu”

Suatu hari, aku mendengar bahwa ada seorang ikhwan yang ingin menikah denganku. Namun dengan lembut aku menolaknya. Bukan karena fisik atau kedudukannya, melainkan agama. Aku menyadari bahwa agama dari seorang ikhwan haruslah lebih dari akhwat. Bukan menyepelekan, tapi aku yakin bahwa setiap detik dalam hidupku sekarang hanya kupersembahkan untuk-Nya.

Setiap melihat syahidah, aku merasa bahwa separuh jiwaku ada pada dirinya. Aku merasa bahwa Syahidah adalah bagian dari hidupku. Aku ingin kelak dia sepertiku, keras dalam memperjuangkan hidup. Namun yang lebih penting adalah imannya. Jangan sampai imannya tergadaikan.

Kini, Syahidah telah beranjak dewasa. Dan aku pun selalu menerapkan padanya mengenai akhlak islam. Syahidah yang pandai dan manis senantiasa membuat kakiku tak surut. Dengan semangat yang menggebu-gebu aku membina dia setiap hari. Suatu ketika dia bertanya padaku,

“Ummi, kenapa ummi tidak mencari abi lagi?” tanyanya dengan wajah polos dan lugu.
Mendengar pertanyaan itu, aku pun tertawa. Ada-ada saja pertanyaan si kecil ini. Dapat dari mana pertanyaan semacam itu? Pikirku.
“Maksudnya Hidah apa, sayang..? ummi tidak paham”
“Ummi..ummi.. apa ummi tidak merasa kesepian tanpa pendamping lagi?”
“Hidah.. kan disini masih ada Hidah.. dan insyaAllah, ummi tidak akan pernah kesepian..”
“Kalau Hidah tidak ada dan tidak bersama ummi, ummi gimana? Apa ummi akan tetap sendirian?”
“Ummi tidak akan menikah lagi, sayang.. kan hidup ummi hanya untuk Allah.. dan hidah adalah amanah Allah, pastinya harus ummi jaga..”

Syahidah mengangguk-angguk cerdas. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu lagi padaku, tapi aku tak tahu. Entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak.
Syahidah yang masih beranjak umur 11 tahun mengatakan padaku, “bahwa hidup ummi hanya untuk Allah. Titik. Bukan untuk manusia, apalagi Syahidah..!”
Dari kata-kata dia yang aneh itu, aku hanya tersenyum kecil.

Suatu sore, aku mendengar suara keras dari luar. Seorang pintu mengetuk pintu rumahkau. Aku pun sedikit kaget. Siapa gerangan yang mengetuk pintu tersebut.
“apa benar anda ibu Ratih?” kata seseorang berpakaian seragam.
“Benar, ada apa?”tanyaku.
“Ibu harus bersabar ya, putrid anda mengalami kecelakaan parah. Sekarang masih dirujuk ke rumah sakit. Kami mohon ibu segera ikut kami dan mengurus segala administrasi maupun asuransi.”

Seketika aku pun shock dan tidak dapat membayangkan yang terjadi pada putriku di sana. Aku duduk dan diam lemas serasa tidak ada lagi daya dan tenaga dalam hidup. Aku merasa kosong dan hampa. Tidak terasa air mata ini mengalir deras.

Setelah tiba di rumah sakit, aku melihat tubuh si kecil terbaring lemah. Menurut seorang saksi mata, putriku meyeberang jalan yang sepi dan tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang sehingga menabrak tubuh mungil si kecil. Aku hanya terdiam, istighfar, dan berdo’a semoga di diberi kesempatan untuk membuka mata kembali.

“putri anda tidak bisa tertolong..” kata dokter yang menangani putriku itu.

Aku menunduk lemah. Hancur sudah semua harapanku. Semua cita-citaku. Semua impianku untuk mencetaknya menjadi insaniah yang rabbani. Hanya 11 tahun dia diberi kesempatan hidup oleh-Nya. Apakah ini keadilan? Aku terdiam. Namun, aku masih mendengar dan teringang kata-kata dia. Bahwa hidup ini semuanya untuk Allah, bukan untuk manusia. Aku merasa putriku adalah pribadi yang sukses kubentuk menjadi insan yang rabbani. Kuseka air mata, kuhampiri jasad anakku, kucium pipi dan kening mungilnya. Aku do’akan dia dan segera aku melangkah pasti ke meja administrasi untuk segera membawa ke rumahku.

Tak mau kutunjukkan perasaan sedih yang berlebihan, karena Dia-lah yang menilai segalanya. Sekarang, aku yakin dia telah tenang di alamnya. Semoga ummimu dapat menyusulmu nak!

Cerpen "Untukmu, Ibu"

Untukmu, Ibu
Oleh
Fithriyah Rahmawati

Teriakan petir bergemuruh. Kilat saling berkejar-kejaran. Air mata langit mulai mengalir deras. Matahari terselimuti awan mendung. Sepanjang hari hujan mengguyur jalan ARH dan sekitarnya. Tak banyak aktivitas yang dilakukan di saat seperti ini. Hanya menatap jalan yang tampak sepi dari jendela kamar. Jalanan yang biasanya dipenuhi kendaraan bermotor kini tampak lengang. Hampir tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Sepi dan sunyi. Keadaan yang tak semestinya terjadi. Hanya terdengar rintihan air hujan dan suara petir yang menakutkan.

Masih terdengar rintihan hujan. Hampir setiap hari selalu terdengar rintihan itu. Kadang rintihan itu begitu memilukan dan menyanyat hati, membuat mereka yang mendengar merasa ketakutan. Rintihan yang diiringgi dengan petir dan kilat membuat hati menjadi kerdil. Kadang juga rintihan itu dapat membuat diri hanyut terbawa kesejukan alam, rasa kantuk akan kembali beraktivitas.

Tatapan kosong masih mengarah ke jalanan. Terlihat beberapa anak kecil berlarian, menyusuri gang-gang kecil di sana. Mereka saling berteriak satu sama lain. Bercanda dengan sahabat karib. Raut wajah mereka memancarkan kegembiaraan yang begitu dalam. Tak ada beban yang ditanggung. Bebas dan lepas. Mudah sekali melakukan apa yang mereka suka. Tak ada yang bisa melarang mereka. Kesenangan dan kegembiraan selalu tersenyum pada mereka, anak-anak kecil tanpa dosa.

Sekelebat bayangan itu muncul kembali. Bayangan sosok wanita paruh baya yang selalu mengganggu pikiran. Sosok itu selalu tersenyum padaku. Senyum hangat yang mengingatkanku pada kampung halaman. Asri dan nyaman sekali berada di sana. Tanpa polusi dan macet. Udara yang bersih masih dapat ditemukan, dihirup dalam-dalam, dihembuskan sambil melepas penat karena kesibukan diri. Gemericik air masih terdengar bebas. Alunan melodinya sangat merdu. Hati gundah gulana dapat terobati karenanya. Kampung halaman yang kurindukan.

Sudah 3 tahun, aku meninggalkan rumah dan ibuku. Hanya untuk mencari gelar sarjana pendidikan. Tak bisa kupungkiri bahwa aku pergi ke sini hanya untuk menuruti keinginan ibuku. Itu awal dari tujuanku ke sini. Ibu ingin sekali mewujudkan cita-citanya, menjadi seorang guru. Namun, hal itu tak pernah tercapai. Lagi-lagi faktor biaya yang menjadi alasan utama. Alasan seseorang tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Sungguh sangat ironi. Gara-gara uang, impian yang telah lama dibangun hancur begitu saja. Ini tak terjadi pada ibuku. Mimpi ibu untuk menjadi seorang guru semakin kuat. Walaupun ibu tak dapat menjadi guru dalam artian yang sesungguhnya. Ibu tetap menjadi guru bagi anak-anaknya. Guru terbaik yang pernah aku dapatkan.

Ibu selalu ada untukku. Setiap menit, setiap detik, setiap saat ibu selalu di sampingku saat gundah dan bahagia menyelimuti hatiku. Perhatian dan kasih sayangnya tak pernah padam semenjak aku masih berada dalam kandungan sampai saat ini. Walaupun jarak memisahkan kita, belaian kasih sayangnya masih kurasakan, detak jantungnya masih kudengarkan. Ibu adalah nafas bagiku. Tak ada ibu. Aku pun tak akan pernah ada.

Tik tik tik. Bunyi hujan masih terdengar. Kutatap jalanan yang tergenang air hujan. Dalam anganku, terlukis bayangan seorang wanita paruh baya tersenyum manis padaku. Raut wajahnya bersinar, matanya yang teduh tampak bercahaya, memancarkan rasa kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Anak semata wayangnya telah diterima di sebuah PTN terkemuka. Ia juga diterima di jurusan yang selalu didambakan ibunya. Kelak ia akan berdiri di depan anak-anak yang telah dititipkan oleh orang tua mereka untuk mendapatkan sentuhan ilmu dan budi pekerti.

Di malam kelulusanku dan terakhir mengenakan seragam putih abu-abu, ibu datang padaku. Ibu menanyakan ke mana arah hidupku akan tertuju. Lalu, aku menceritakan semua mimpi-mimpi yang telah aku bangun sejak pertama kali aku tak akan pernah bertemu ayah lagi. Aku ingin menjadi seorang dokter dan memiliki sebuah rumah sakit. Aku ingin mengabdikan diriku pada masyarakat yang kurang beruntung seperti diriku. Aku ingin anak-anak mereka tak seperti diriku. Kehilangan sosok ayah.
Ketika itu, ayah mengalami kecelakaan. Keadaannya sangat parah. Dokter mengatakan bahwa ayah harus segera dioperasi. Lagi-lagi uang. Kami tak punya uang sesen pun untuk membiayai operasi ayah. Ibu berusaha meminta keringanan kepada pihak rumah sakit. Namun, mereka hanya berkata, “Maaf, kami hanya menjalani prosedur. Kami bisa manjalankan operasi jika setengah dari biaya operasi terbayar”. Apakah prosedur lebih penting dari pada nyawa? Entah apa yang dipikirkan mereka.

Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk ayah. Yang kulakukan hanya duduk terpaku melihat ibu pontang panting mencarikan pinjaman uang untuk biaya operasi ayah. Gadis berusia 13 tahun ini hanya bisa mendoakan ayah, memohon kepada Allah untuk menyembuhkan ayah dan menolong ibu. Setelah bersusah payah mencari uang ke sana ke mari, akhirnya ibu mendapatkannya juga. Tapi, usaha ibu tak bisa menolong ayah. Saat ibu mengurus segalanya. Ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mendengar hal itu, ibu tak sadarkan diri. Tapi, ibu bisa menguasai keadaannya. Kami hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya ke Allah, Sang Pencipta. Inilah jalan yang harus kami lewati.

Uang telah membuat aku kehilangan ayah dan tak akan pernah bertemu dengan ayah lagi. Hanya foto yang bisa kupandang jikalau rindu kembali datang. Sejak itu, aku bertekad untuk mengubah semuanya. Prosedur-prosedur yang tak memihak kepada rakyat kecil.

Aku bukanlah orang yang mudah menolak permintaan orang apalagi ini adalah permintaan ibu. Ibu kandungku sendiri. Bukan orang lain. Sebenarnya bukanlah sebuah permintaan melainkan hanya sebuah harapan seorang ibu kepada anaknya. Melihat air muka ibu berubah. Hatiku luluh. Hatiku pun hancur beserta hancurnya bangunan mimpi-mimpi itu. Aku harus bisa melakukan itu, memenuhi harapan ibu untuk menjadi seorang guru. Walaupun kutahu ibu tak pernah memaksaku untuk melakukannya.
02.50. Aku terjaga dari tidurku. Seperti biasanya, aku pergi ke kamar mandi, mengambil air wudhu. Kemudian bersujud, memohon ampun atas semua dosa-dosa yang pernah kulakukan, bersyukur atas semua nikmatNya yang kuterima selama nyawa masih bersama jasad. Ini yang selalu diajarkan ibu kepadaku. Bangun tengah malam. Mengerjakan sholat dua rakaat.

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (Al Israa’:79)

Tatkala aku akan menuju ke kamarku, aku mendengar tangisan. Tangisan siapa itu? Itu terdengar dari kamar ibu. Kubuka pelan-pelan kamar itu. Dengan balutan kain putih yang selalu dipakainya untuk sholat, kulihat ibu bermunajat kapada Allah. Ibu mendoakan diriku, mendoakan ayah juga, memohon pengampunan keluarga kami. Dengan linangan air mata, ibu memohon kepada Allah agar apa yang kuinginkan tercapai, ridho dengan keputusan yang kuambil selama masih di jalur yang benar dan lurus. Aku tak kuasa melihat lelehan air mata ibu. Air mata yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Walaupun di saat maut menjemput ayah. Ibu terlihat tegar. Ibu tak pernah berbagi kesedihan pada orang lain apalagi dengan diriku.

Ibu, aku akan menjadi seperti yang engkau inginkan. Surga ada di telapak kakimu. Ridhomu dekat sekali dengan ridho Allah.

Hari keberangkatanku semakin dekat. Semua persiapan sudah selesai. Tinggal menunggu waktu keberangkatan. Daftar-daftar perlengkapan yang harus aku bawa sudah tidak ada lagi. Ibu mendekat padaku, duduk di sisi ranjangku. Sementara aku menyiapkan pakaian untuk kukenakan besok.

“Ibu, hanya bisa mendoakanmu. Ibu tak bisa memberimu apa-apa. Ibu tak punya apapun untuk kau jadikan bekal”
“Ibu....”
“Ibu hanya berpesan. Jangan melupakan sholat wajib dan sholat-sholat sunnah yang sering kau lakukan di rumah. Tetaplah tersenyum bagaimanapun keadaannya. Wanita itu sosok yang kuat jika ia tak menganggap dirinya lemah”
“Ibu... pesan ibu adalah bekal hidupku. Doamu adalah kekuatanku. Kasih sayangmu adalah nafas bagiku.”

Kupeluk ibu erat-erat. Linangan air mata kembali berurai. Ini adalah hari terakhirku bisa memeluk bunda. Besok, besok, dan besok aku tak bisa sesering ini memeluk ibu. Pelukan yang hangat. Dan pelukan penyemangat hidupku.

Kenangan yang telah lama kusimpan membuat diriku kembali ke masa itu. Tak kusadari pipiku telah basah karena air mata. Air mata sedih, air mata bahagia, dan air mata kerinduan. Rindu pelukannya, belaiannya yang hangat. Raut wajah ibu masih tersimpan dalam ingatanku. Aku tak akan pernah bisa melupakan ibu.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Berkumandang adzan. Waktu maghrib telah tiba. Aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim.

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo. Ya Allah. Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. Amin.

Sunday, October 10, 2010

Prodak Keputrian JMMI TPKI ITS

Kabinet Sinergisitas Dakwah JMMI – TPKI ITS ‘10-‘11
PROGRAM DAKWAH
Departemen Keputrian
Periode 2010-2011

SDM Departemen KEPUTRIAN
Ketua Departemen: Nourma P (Teknik Kelautan 2007)
Sekretaris Departemen: Lina D P (Statistika / 2008)
Ketua Divisi Bina Muslimah: Addin F (Kimia / 2009)
Staf Akhwat:
Meiyasa A (Matematika / 2009)
M Farida (Kimia / 2007)
Yunis (Biologi / 2008)
Paramita A (Matematika / 2008)
Novi K D (T.Otomasi PPNS / 2008)
Ketua Divisi Jaringan Muslimah : Akhlaq (TBK PPNS / 2008)
Staf Akhwat:
Lailatus S (Kimia / 2008)
H Millah (Teknik Informatika / 2009)
Jihannuma AN (Teknik Kelautan / 2008)
Sri H (D3 Statistika / 2009)
Total Kader: 13 Akhwat : 13

Tujuan:
Membentuk pribadi muslimah yang Intelek,Tangguh dan Shalihah

Arahan Kerja Divisi Bina Muslimah (BIMUS):
Melaksanakan pembinaan dan syiar kemuslimahan
Meningkatkan potensi muslimah dalam hal ruhiyah, jasadiyah, fikriyah
Daurah Mar’atush Shalihah

Program Dakwah Divisi Bina Muslimah:

KaRiMah (Kajian Rutin Muslimah)
Pembinaan tsaqofah kemuslimahan melalui kajian rutin tiap pekan, diadakan oleh Departemen Keputrian dan beraliansi dengan keputrian LDJ di ITS.
Sasarannya adalah muslimah ITS.

DMS (Dauroh Mar’atush Shalihah)
Pembinaan dan syiar kemuslimahan yang dikemas dalam bentuk seminar atau pelatihan.
Sasarannya adalah muslimah ITS dan umum.

MFD (Muslimah Fun Day)
Wahana bagi muslimah untuk refreshing dan mengembangkan softskill kemuslimahan dan jasadiyahnya, dikemas dalam bentuk olahraga, membuat kerajinan tangan, dll.
Sasarannya adalah muslimah ITS.

Upgrading Internal
Forum temu kader keputrian untuk mempererat ukhuwah dan merefresh semangat.
Sasarannya adalah pengurus keputrian.

Arahan Kerja Divisi Jaringan Muslimah (JARMUS):
Meningkatkan koordinasi dan manajerial FSKLDJ
Meningkatkan silaturrahim, ukhuwah, dan kerjasama dengan spondon, alumni, dan tokoh-tokoh muslimah
Sebagai pelaksana teknis dalam sinergisitas dengan FSKLDJ dan Jarmus FSLDK
Memberikan pemahaman akan urgensi dan kewajiban berjilbab serta melakukan pendataan jilbab

Program Dakwah Divisi Jaringan Muslimah:

FSKLDJ (Forum Silaturrahim Keputrian Lembaga Da’wah Jurusan)
Merupakan forum koordinasi antara keputrian JMMI dan LDJ dalam usaha sinergisitas gerak langkah dakwah muslimah ITS.
Sasarannya adalah Keputrian LDJ di ITS.

SiQoh (Silaturrahim Toqoh)
Silaturrahim ke tokoh-tokoh muslimah, memperkenalkan kepengurusan baru dan meminta nasihat untuk kinerja keputrian pada khususnya, dan akhwat JMMI secara keseluruhan.
Sasarannya adalah sponsor dan donator keputrian, dosen/istri dosen, alumni, serta tokoh-tokoh muslimah.

RoKet (Roadshow Keputrian)
Silaturrahim ke beberapa keputrian jurusan untuk sharing serta mengetahui kondisi kajian jurusan, khususnya kondisi keputriannya, sekaligus memberikan solusi untuk permasalahan-permasalahan di sana, terutama yang berhubungan dengan keputrian jurusan, serta LDK lain.
Sasarannya adalah keputrian LDJ dan LDK.

Pendataan dan Distribusi Jilbab
Pendataan jumlah mahasiswi ITS yang berjilbab, dengan tujuan melihat presentase perbandingan jumlah mahasiswi yang berjilbab dan yang tidak, jilbab syar’i dan kurang syar’i, serta peningkatannya dari tahun ke tahun. Selain itu juga penggalangan dan pendistribusian jilbab ke jurusan maupun umum.
Sasarannya adalah muslimah ITS.

Slogan Departemen:
“Muslimah ITS… Intelek, Tangguh, Shalihah”



Semoga apa yang telah kami niatkan dan yang akan kami laksanakan ini dapat bermanfaat dan mendapat Ridho dari Allah SWT, sehingga dicatat sebagai amal kebaikan serta diterima di sisi-Nya. Keputrian mengharap partisipasi dan kontribusi dari semua pihak demi suksesnya dakwah muslimah.

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki – laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).

”Sesungguhnya wanita adalah tiang negara, jika ia baik maka baiklah negara itu, dan jika ia rusak, maka rusaklah negara itu”. (Al Hadist)

”Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah”. (HR.Muslim)