Pages

Friday, October 15, 2010

Cerpen "Menangis Dalam Kereta"

Menangis Dalam Kereta
Oleh
Dian Rahma L. H.

Pasundan Melaju. Menuju Yogyakarta raya jaya. Menyusuri tiap centi sisi tepi rel yang besinya mulai menua. Menyapa padi-padi di ladang yang mulai menguning bak warna keretanya. Dan kemudian berhenti sekejap. Mengundang para manusia yang berdendang di stasiun untuk mengembara di gerbong-gerbongnya.

Masih 6 jam lagi sang kereta berlari ke peraduan terakhirnya di lempuyangan. Terasa terlalu sebentar baginya. Bagi wanita paruh baya yang kini sedang duduk di sebuah bangku reyot kereta ekonomi pasundan. Ya amat sebentar baginya untuk mempersiapkan mental menghadapi sejuta memori di ambarketawang. Tangan kanannya menyangga kepala. Pusing. Mungkin begitu rasa yang mampir dikepalanya. Atau bahkan mungkin ia sedang berencana untuk mundur saja dari pertarungan batinnya. Antara kembali dan tidak. Antara berani dan tidak. Antara mau dan tidak. Antara siap dan tidak. Dan ia dapati “tidak” sebagai pemenang dalam pertempuran batinnya. Tapi kaki rapuhnya tak mau ia ajak beranjak. Pikirannya bertambah kalut. Bayang-bayang para manusia ambarketawang membundakkan emosinya.

“AAAAAAAARRRRRRRGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHH…..”, teriaknya.
“Nalar, Nalar. Ada apa, nak? Manda disini. ”, seorang wanita renta duduk disamping tempat boboknya. Mencoba menenangkan.
“Manda…Nalar mimpi buruk.”
Melihat Bundanya berkaca-kaca, Nalar urung menceritakan mimpi yang sangat mendekap erat tidur malamnya yang singkat.

“Wajah Manda Pucat. Tubuh Manda dibalut kain putih. Kemudian orang-orang berdatangan. Memeluk tubuh Nalar yang masih setinggi 80 centi. Dan dalam sekejap, banyak laki-laki mengusung tubuh Manda. Katanya, mereka mau membawa Manda ke tempat yang sangat indah, dimana Manda sangat menyukainya. Mereka bilang, Manda akan bisa bertemu ayah dan opa. Tapi, ketika orang-orang berhenti di tempat yang mereka maksud, Nalar tak melihat ayah. Nalar tak melihat benda-benda yang membuat tempat itu indah. Yang Nalar lihat hanyalah tempat serupa kuburan tua yang ada di ujung desa.”, Nalar berkata-kata dalam hatinya. Mencoba mengingat mimpi yang tak bisa ia ceritakan pada Bunda yang matanya sedang berkaca-kaca.

“Nalar bobok lagi ya..masih tengah malam. Manda temenin, biar Nalar ga’ mimpi buruk lagi. Dan jangan lupa berdoa dulu ya….”
Nalar berdoa, esok hari kan terang. Seterang siang yang benderang karena matahari yang tak malu-malu. Berdoa agar esok Bunda masih mendekap tubuh mungilnya. Nalar tertidur. 5 jam kemudian, sengat surya membuatnya membuka mata.
“Manda…Manda…Mandaaaaa”, teriaknya.
Bunda tak terlihat. Bayangannya pun tak terpantul di retina Nalar. Ia takut. Takut akan doa yang tak terkabulkan.
“Ada apa Nalar? Manda di sini. Ayo nak, lekas bangun, bantuin bunda.”
Hati Nalar tenang, namun tetap merasa tak enak. Entahlah. Batinnya.
“Manda ke pasar dulu. Nalar jaga rumah sebentar ya”
Nalar menganggukkan kepalanya. Menuruti apa kata bunda. Namun, saat itu tak pernah ia menyangka bahwa ini adalah anggukan terakhirnya pada bunda. Ya, terakhir. Karena sang bunda pulang kembali ke rumah tanpa membawa nyawa. Hanya raga saja, dan itupun diusung oleh 3 laki-laki tak dikenal.

Tak tahu yang terjadi, Nalar mendekati raga bunda yang ia lihat tak bergerak sedikitpun.
“Seperti mimpi Nalar semalam. Manda dibalut kain putih.”
Namun sedikit berbeda. Batinnya bergumam. Nalar tak melihat wajah pucat sang bunda. Yang ia lihat adalah wajah wanita yang tak lagi bisa ia kenali. Wajahnya rusak, penuh bekas darah dan jahitan.

“Kenapa wajah Manda?”
Gadis kecil berumur 4 tahun itu bertanya, tanpa ada seorang pelayat pun yang sanggup menjawab dengan kata-kata. Hanya dekapan kecil yang mereka berikan. Dekapan-dekapan yang bahkan tak hangat sama sekali bagi Nalar.

“Mau dibawa kemana Manda?”
Tanya nya lagi. Persis dengan mimpinya semalam. Mereka menjawab bahwa bunda akan di bawa ke tempat yang indah, dimana bunda bisa bertemu ayah. Tiada satu tetes pun airmata yang menghiasi perjalanannya menuju tempat tujuan. Dan rombongan berhenti, di sebuah pemakaman tua di ujung desa.

“Manda tak akan pernah pulang lagi. Sama seperti di mimpi.”, bisiknya pada hembusan angin dari dedaunan kamboja yang menghiasi pekuburan.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttt…………

Kereta berhenti. Remnya yang sedikit mendadak, membuat tubuh wanita paruh baya itu sedikit terjungkal ke depan. Namun tak apa. Ia menyeka keringatnya, dengan sapu tangan lusuh yang dari tadi digenggamnya. Kemudian dilihatnya jam dinding yang tak sebesar gadang yang bersandar di salah satu tiang stasiun.

“4 jam lagi.”, desahnya.
Kiranya si Sumobito tak menyetor banyak penumpang hingga pasundan hanya berisitirahat 5 menit saja, lalu kembali melaju. Melewati rumah-rumah bak onggokan sampah kardus yang di tata rapi.

----------||----------

“Oek..oek..oek…oek…”, Anaknya lahir dengan selamat. Setelah 7 jam ia berjuang melawan maut di pembaringan rumahnya yang reot. Kini berarti Nalar tlah beranak lima, di usianya yang hampir menginjak kepala 4. Tanpa suami disampingnya. Tanpa suami yang tlah meninggalkannya dalam jemu keabadian karena tertabrak kereta semalam.

Kali inipun, air mata tak menghiasi kepergian lelaki pertama yang dikasihinya. Tak sempat untuk menangis. Mungkin Tuhan mewakilkan tangis sedihnya pada bayi yang baru ia lahirkan. Pada bayi laki-laki mungil yang ia namai Juang.

Tanpa sempat pula tuk sekedar menidurkan raga selama 24 jam, pagi buta ia tlah terbangun. Menggodok air yang semalam ditimba tetangganya. Ia seduh teh gopek yang diwadahkannya dalam teko tua peninggalan Manda. Ia jual seduhan itu di warung tua bekas warung Manda pula. Ditemani gorengan tempe dan tahu, cukup ramai laki-laki yang bercengkrama dalam warung. Mengobrolkan kasus reformasi yang bahkan tak Nalar pahami, atau mengobrolkan peperangan Irak-Amerika yang sama sekali tak Nalar gubris. Atau mengobrolkan matinya anak-anak di Palestina yang bagi Nalar itu hal biasa. Terserahlah. Batinnya.

Malam harinya, Nalar dewasa ini pun jarang terninabobokkan oleh hening malam. Bayi juang calon pejuang terus menangis. Seakan terus menuntut ASI yang bahkan tak bisa ia berikan. Belum lagi rengekan anak keduanya yang ingin buang air di malam hari, yang butuh papahan ibunya, karena ia lahir tanpa kaki. Ditambah rintihan si sulung tiap malam karena sakit yang ia rasakan pada perut buncitnya.
Keadaan malam Nalar pun akan semakin carut jika anak ketiga nya menangis, terbangun karena terganggu kegaduhan saudaranya. Meski begitu Nalar tetap bersyukur, setidaknya anak keempatnya tak kan pernah terganggu meski kegaduhan terus menghantui kehidupan malam di rumah reyot peninggalan Manda, karena telinganya yang tuli.

Namun, di suatu malam. Sungguh langka keheningan menghampiri rumah reyot itu. Tiada tangis si kecil Juang, tiada rengekan anak keduanya, si sulung pun tak merintih. Kiranya mereka ikut bersedih seperti Nalar atas kepergian saudaranya. Sang anak ketiga yang meninggal tenggelam saat mandi di sungai. Dan lagi-lagi air mata tak menemani rasa kehilangannya. Tak ada waktu. Begitu pikirnya. Malam ini ia sudah harus bersiap menimba air sumur untuk digodok esok fajar. Dan ia pun harus menyelesaikan pembuatan adonan tempe dan tahu goreng untuk ia jual di pagi hari. Kalau tidak begini, tidak ada uang untuk bayar hutang persalinan kelimanya.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttt

Kereta tiba-tiba kembali berhenti kedua kalinya. Kini Pasundan singgah agak lama di stasiun Madiun. Membuat wanita paruh baya itu sedikit bernafas lega. Setidaknya, ia punya tambahan waktu untuk mempersiapkan mentalnya sebelum sampai di Ambarketawang. Jubelan penumpang yang memenuhi gerbong kereta pun tak dihiraukannya. Baginya yang amat penting saat ini adalah, persiapan mentalnya harus sampai 100%. `Pedagang asongan yang menawarkan kopi panas pun tak ia acuhkan. Wanita paruh baya itu terus berkonsentrasi pada peningkatan mentalnya hingga Pasundan kembali meneruskan sepak terjangnya menuju Lempuyangan.

----------||----------

Warung tua Nalar raib dalam waktu tak lebih dari 10 menit. Warung dari jerami itu ludes terbakar api yang mengganas di tengah badai malam yang melanda wates. Jantung Nalar serasa berhenti. Entah kata apa yang bisa menggambarkan rasanya. Kalut, carut, marut, kacau, galau, risau, bingung, linglung, pusing dan pening. Namun apakah Nalar menangis? Tidak. Mungkin itu jawaban yang mengesalkan dan membuat bumi kecewa. Kecewa karena harapannya tuk menadah airmata Nalar terpupus sudah. Hemat air. Begitu pikir Nalar. Baginya air mata - air mata itu akan sangat berguna bagi tambahan stock keringat yang akan ia kucurkan untuk proses berpikir kerasnya. Ya berpikir keras untuk mencari 1001 cara demi menghidupi diri dan keempat anaknya.

` Tangis yang ditahannya membuahkan hasil. Proses berpikirnya pun tak terlalu keras seperti yang ia bayangkan. Esoknya, ia sudah temukan sumber penghidupan baru. Mengais sampah. Menjadi pemulung seperti alamarhum suaminya. Sungguh Nalar bersyukur pada Tuhan atas yang telah Ia berikan.Sebab kini ia tak harus bangun sedini pagi-pagi biasanya. Para pemulung biasa beraktivitas di atas jam 6. Namun kembali ke rumah di atas jam 6, dan tak membawa pulang uang lebih dari enam ribu tiap harinya. Dan Nalar merasa lebih lelah dari pada hari-hari sebelumnya. Hari-hari dimana warung reyot itu masih berdiri. Tapi tak ia rasakan. Baginya, yang penting ia dan keempat anaknya bisa hidup, meski dari sisa-sisa nasi aking.

Ia terus bertahan dengan keadaan hidup yang mungkin dirasa bumi sangat mengenaskan. Kakinya yang tak pernah menginjak bagian tubuh bumi yang lain, hanya menginjak bagian tubuh bumi yang dipenuhi sampah saja. Ia bertahan, sampai pada suatu siang yang amat panas, yang membuat peluhnya keluar dari ari bak banjir bah. Ia harus pulang lebih awal. Ia harus pulang siang itu juga, meski belum ada uang sepeserpun dalam genggamannya.

Ia dapati rumah tua peninggalan Manda penuh dengan para tetangga yang menatap ke arahnya dengan melas dan penuh iba. Dan Nalar pun melangkah gontai memasuki rumah sembari tetap menegakkan bahunya. Dilihatnya 2 anak lelakinya, si sulung dan anak keduanya terbujur kaku. Tak bernyawa lagi. Mati karena suatu sebab yang bahkan tak ia ketahui.

“Sebegitu besarkah dosaku, wahai sang empunya jagad raya?”, batinnya menangis. Namun sekali lagi, hanya batinnya. Air mata kiranya benar-benar enggan keluar dari pintu kelopak mata Nalar. Dan kini bumi pun benar-benar kecewa. Dua kali sudah ia dikecewakannya. Dikecewakan Nalar yang tak kunjung meneteskan air matanya. Meski tangisan dan air mata Juang tlah mewakili ibunya, kiranya bumi tak puas.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttt

Entah berapa kali kereta itu tlah berhenti. Sang wanita paruh baya itu tak sempat menghitungnya. Ia sibuk dengan lamunannya 50 tahun lalu. Namun bunyi rem kereta kali ini benar-benar tlah membuyarkan lamunan yang ia kira akan abadi. Membuyarkan bayang-bayang masa lalu yang menghinggapinya. Sampai ia sadar, tak setetespun air mata yang ia kucurkan dalam perjalanan hidupnya. Dan kini ia menangis. Tangis yang membuat satu dari dua kekecewaan bumi terobati. Entah berapa tetes banyaknya, hingga sanggup membuat kuyup sapu tangan lusuh yang dari tadi digenggamnya. Ya, Nalar namanya. Nama wanita paruh baya yang dilahirkan di pinggiran jalan Wates, Ambarketawang, tahun 1956. Nama wanita paruh baya yang dari tadi duduk di dalam sebuah bangku di kereta bernama Pasundan. Wanita paruh baya yang dari tadi mempersiapkan mentalnya tuk melihat Ambarketawang. Dan kemudian, ia menyeka air matanya. Cukup bagi bumi merasakan kepuasan. Pikirnya.

“Apakah aku tlah menjadi salah satu wanita terhebat di dunia ini, wahai Tuhan yang jiwa dan ragaku ada dalam genggamanMu?”, batinnya lagi.
“Ataukah aku orang papa yang sombong hingga tak mau meneteskan air mata meski sekali saja?”, gumamnya.
“Tapi bukankah di luar jalan takdir ku yang bagi bumi mungkin mengenaskan ini, masih banyak orang lain yang lebih menderita?”,gumamnya lagi.
“Bukankah masih banyak para ibu yang kehilangan suami dan sepuluh anaknya di Irak sana? Dan bukankah terlampau banyak wanita yang menjadi janda di daerah pertempuran Afghanistan?”, pikirnya.
“lantas, patutkah aku menangisi derita yang tiada seujung kukupun bila kubandingkan dengan mereka?”, tanyanya pada Tuhan.

Nalar berhenti bertanya, berhenti berpikir, berhenti bergumam. Baginya, tak perlu menjadi seorang kartini yang mencipta “habis gelap terbitlah terang” , untuk menjadi seorang wanita hebat. Tak perlu menjadi seperti Cut nyak dien yang berlaga untuk menjadi wanita perkasa. Ia pun tak berniat mecatatkan namanya di lembar sejarah peradaban manusia. Karena memang dunia peradaban ini tak meliriknya.

Baginya, di jalan takdirnya, menjadi manusia yang tak pernah merasa dirinya adalah manusia paling menderita ketika Tuhan mengujinya, sudah menjadikannya sebagai wanita hebat.
Baginya, berdamai dengan masalah adalah kunci untuk menggembok bui untuk memenjarakan air matanya.

Dan kini, lamunannya berakhir.
Perang batin pun berakhir.
Saat kereta pasundan tlah tiba di Lempuyangan.
Saat dimana bagian tubuh bumi di titik ini menjadi saksi rebahnya tubuh Nalar.
Saat dimana penantian tubuh bumi di titik Ambarketawang untuk disinggahi kaki nalar harus menjadi harapan yang tak kan pernah menjadi kenyataan.
Karena kenyataannya adalah, rebahnya tubuh Nalar yang mendekap Juang untuk selamanya di pintu gerbang Lempuyangan.

1 comment:

  1. Subhanallah,
    bagus cerpen nya
    luar biasa cobaan si tokoh utamanya, tp ending aku kurang ngerti
    hehe

    ReplyDelete