Membentuk pribadi muslimah ITS yang berakhlaqul karimah melalui pembinaan dan syiar kemuslimahan serta meningkatkan koordinasi keputrian dalam jaringan kemuslimahan
Tuesday, July 12, 2011
CANTIK
Definisi cantik? Bisa beragam jawabannya, teringat masa SMA dulu temen-temen sering menyebutkan satu kalimat andalan, “ Cantik itu relatif, jelek itu mutlak!. ” apa yang anda pikirkan ketika mendengar atau ditanya tentang kata cantik? Nggak usah jauh-jauh untuk mencari jawabannya. Cukup nyalakan tombol power pada remote televisi dan anda akan menemukan banyak jawaban dari iklan, sinetron maupun acara televisi lainnya. Itulah masyarakat kita saat ini.
Cantik = kulit putih
Cantik = rambutnya panjang
Cantik = tidak ada jerawat di wajahnya
Cantik = banyak laki-laki yang tertarik
Cantik = baju dengan mode terbaru
Cantik = .... (Silahkan didefinisikan sendiri)
Masyarakat bentukan media, bagaimana tidak? Beberapa waktu lalu sempat mengunjungi salah satu mall saat acara jurusan, dan apa yang saya dapati di sana? Gadis-gadis seolah berlomba untuk memperlihatkan eksistensinya, dengan apa? Baju beraneka rupa yang tak lain dan tak bukan adalah baju-baju yang sering kita jumpai di televisi. Mulai dari model A-Z yang rata-rata memperlihatkan aurat dengan berbagai sisi. Sempat ngobrol ringan dengan salah satu kawan yang kebetulan sedang berjalan di samping saya.
“Ini kasihan laki-laki yang ngelihat ya?”
“Mbak-mbak nya juga kasihan, hal yang seharusnya ditutupi tapi malah diperlihatkan di depan orang banyak”
“kesimpulannya, sama-sama kasihan kalo kayak begini”
Maka pantas menurut sosiolog Akbar S. Ahmad (1997) bahwa media televisi di zaman modern telah menumbuhkan gejala pemujaan tubuh dan personifikasi gaya hidup baru. Televisi lewat berbagai menu acaranya telah membius remaja akan pentingnya penampilan tampak muda.
Hal yang menjadi PR bersama, pun saat sekarang kerudung bukan lagi hal yang aneh. Bukan lagi hal-hal yang patut untuk dicurigai seperti beberapa tahun lalu. Tapi, sudahkah kita mengenakan penutup aurat yang sesuai dengan syariat? Teringat di MA beberapa waktu lalu, ada salah seorang ikhwah yang nyeletuk, “bukan lagi saatnya mendata jilbab, tapi mendata rok”. Ya, saat kerudung sudah menjadi hal biasa bahkan tren, ada hal-hal yang patut disyukuri pastinya, tapi di sisi lain seolah ada sebuah paradigma yang belum bisa terpecahkan mengenai menutup aurat.
Apa yang menyebabkan makin maraknya tren mode yang dicontoh oleh sebagian besar pemuda-pemudi di negeri ini? Bukan hanya televisi saja yang berperan. Namun “rasa malu”.
“Jika Allah hendak menghancurkan suatu kaum (negeri), maka terlebih dahulu dilepaskannya rasa malu dari kaum itu”. (HR Bukhari dan Muslim)
“....Maka tak cukup hanya sekedar tahu atau berilmu, untuk malu seseorang mesti memiliki iman. Dengan iman, rasa malu akan terpelihara. Tanpa iman maka tak ada rasa malu....” (Kudung Gaul- Abu Al-Ghifari).
Seperti salah satu sifat nabi yang dijelasakan dalam Sirohnya.
“Nabi SAW adalah orang yang paling malu dan suka menundukkan mata”
Sebagai penutup, ada potongan syair dari Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah
“ Segala peristiwa berawal dari pandangan mata
Jilatan api bermula dari setitik bara
Berapa banyak pandangan yang membelah hati
Laksana anak panah yang melesat dari tali
Selagi manusia masih memiliki mata untuk memandang
Dia tidak lepas dari bahaya yang menghadang
Senang di permulaan dan ada bahaya di kemudian hari
Tiada ucapan selamat datang dan ada bahaya saat kembali”
Ikhwahfillah, yuk berusaha berIslam secara menyeluruh. Bagi para muslimah, semua aturan yang telah ditetapkan oleh Allah sesungguhnya untuk menjaga kehormatan kita semua. Ya nggak? Coba bandingkan ketika kita berjalan dengan mengenakan baju yang menutup aurat dan ada seorang perempuan yang memakai baju dengan aurat yang terbuka. Siapa kira-kira yang menarik perhatian kebanyakan orang? Pasti sudah tau jawabanya. Ayok2 tunjukkan izzah sebagai seorang muslimah! Izzah seorang ummahat pembangun peradaban!
[imm]
IBU
Ibu, Aku Menyanyangimu karena Allah
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Nada-nada yang indah slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku tak kan jadi deritanya
Tangan halus dan suci tlah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup rela dia berikan
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku
(Bunda – Melly Goeslaw)
Sebagian memanggilnya bunda, yang lain mama, mami, mother, okasan, dan lain-lain. Tapi aku memanggil wanita yang melahirkanku dengan sebutan ibu. Sebuah kata yang terdiri dari tiga huruf namun sangat berarti bagiku. Dan kuyakin berarti pula bagi semua orang.
Ibuku , seorang wanita yang selama delapan tahun ini bekerja di sebuah instansi pemerintah. Dengan kesibukannya mengurus beberapa permasalahan masyarakat dan administrasi, tepat dua tahun lalu diuji oleh Allah. Bapak sakit, dan memerlukan perawatan yang intensif. Selama beberapa hari beliau menemaninya di rumah sakit. Mengharuskannya cuti dari pekerjaannya di kantor.
Ternyata beberapa hari saja tak cukup, dokter memberikan beberapa pilihan pada bapak mengenai penyakitnya. Di tengah sakit yang cukup mengejutkan bagi keluarga maupun rekan kedua orang tuaku, ibuku tak pernah terlihat sedih dengan apa yang sedang dihadapi bapak. Kata ibu pada saudaraku,”Kalau saya ikut sedih, maka tak ada yang bisa menenangkan bapak. ” Itulah ibu dengan ketenangannya.
Subscribe to:
Comments (Atom)



