Membentuk pribadi muslimah ITS yang berakhlaqul karimah melalui pembinaan dan syiar kemuslimahan serta meningkatkan koordinasi keputrian dalam jaringan kemuslimahan
Tuesday, July 12, 2011
IBU
Ibu, Aku Menyanyangimu karena Allah
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Nada-nada yang indah slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku tak kan jadi deritanya
Tangan halus dan suci tlah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup rela dia berikan
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku
(Bunda – Melly Goeslaw)
Sebagian memanggilnya bunda, yang lain mama, mami, mother, okasan, dan lain-lain. Tapi aku memanggil wanita yang melahirkanku dengan sebutan ibu. Sebuah kata yang terdiri dari tiga huruf namun sangat berarti bagiku. Dan kuyakin berarti pula bagi semua orang.
Ibuku , seorang wanita yang selama delapan tahun ini bekerja di sebuah instansi pemerintah. Dengan kesibukannya mengurus beberapa permasalahan masyarakat dan administrasi, tepat dua tahun lalu diuji oleh Allah. Bapak sakit, dan memerlukan perawatan yang intensif. Selama beberapa hari beliau menemaninya di rumah sakit. Mengharuskannya cuti dari pekerjaannya di kantor.
Ternyata beberapa hari saja tak cukup, dokter memberikan beberapa pilihan pada bapak mengenai penyakitnya. Di tengah sakit yang cukup mengejutkan bagi keluarga maupun rekan kedua orang tuaku, ibuku tak pernah terlihat sedih dengan apa yang sedang dihadapi bapak. Kata ibu pada saudaraku,”Kalau saya ikut sedih, maka tak ada yang bisa menenangkan bapak. ” Itulah ibu dengan ketenangannya.
“Bapak harus dioperasi di luar kota”, ujar ibu kala itu. Dan aku yang tak menyangka bahwa sakitnya bapak sampai mengharuskannya operasi, membuatku tak sanggup berkata apa-apa lagi pada ibu. Kebetulan saat itu aku masih menyandang gelar mahasiswa baru 2008. Dan di tengah pengaderan yang menjadi kegiatan sehari-hari maba, aku harus beberapa kali menjenguk bapak yang saat itu membutuhkan motivasi untuk dapat menghadapi ujian terbesarnya.
Akhirnya di ruang berukuran tak lebih dari 3X3 m itulah kami menghabiskan hari-hari menjelang idul fitri 1429 H. Hanya bertiga, terkadang ada rekan bapak dan ibu yang kebetulan tinggal di Malang menjenguk dan memberi bapak semangat untuk tetap bertahan. Setelah beberapa waktu menginap di rumah sakit, akhirnya bapak diijinkan pulang. Dengan catatan, bapak harus melakukan perawatan di rumah ditambah kontrol rutin di rumah sakit tersebut.
Perlu diketahui, perawatan yang harus dijalani bapak tidak mudah menurutku, beliau harus rutin mengganti cairan yang ada di tubuhnya. Satu hari bisa 3-4 kali proses penggantian cairan melalui perut beliau yang telah tertempel selang hasil operasi beberapa waktu lalu. dan ibulah yang mengurus itu semua. Tiga sampai empat kali sehari beliau mengganti cairan di tubuh ayah dengan sabar dan telaten. Belum lagi kalau harus melakukan suntikan yang juga dilakukan secara rutin. Selama beberapa bulan, ibu izin dari tempatnya bekerja. Selama itulah beliau belajar menjadi perawat bagi ayah. Pelajaran yang kuyakin tak pernah beliau ambil di tempat kuliahnya dulu.
Sudah dua tahun dari operasi bapak waktu itu. kini, beliau tetap harus menjalani perawatan rutin dan kontrol secara bertahap di rumah sakit yang bisa dikatakan jauh dari rumah kami. Sekitar empat jam menggunakan mobil. Siapa yang selalu siap menemani bapak? Tentulah ibuku. Pun sekarang, ketika bapak kehilangan bobot badannya, ibu masih setia disampingnya. Sekarang, dimana bapak pergi ibu selalu mendampingi. Ibuku dengan kesetiaannya pada suami.
Setiap hari beliau tetap bekerja, karena memang ada sebuah amanah yang harus ditunaikan. Namun, ibu tetaplah ibu. Ketika di rumah, tak nampak sekalipun berkeluh tentang pekerjaannya. Ditambah pula harus mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga yang memang menjadi tanggung jawabnya. Bekerja di kantor, ibu rumah tangga, serta perawat pribadi bapak, itulah peran yang tengah dilakoni ibuku.
Terkadang, jika tubuh tak bisa diajak kompromi, kesehatannya berkurang, sedikit keluhan yang terucap. Namun ketika bapak memanggil untuk mengganti cairan atau sedekar memijit kakinya, ibu akan selalu siap sedia. Terkadang aku tak memperhatikan kelelahannya, masih saja aku menuntut beberapa hal ketika aku pulang. Tapi, dia tetap mampu berperan menjadi ibu untukku.
Aku yakin, banyak ibu diluar sana yang mampu menginspirasi bagi anak maupun orang lain yang mengenalnya. Seperti kisah seorang ibu binaan yang kami kunjungi beberapa waktu lalu.
Seorang ibu bernama Ibu Wiji. Ibu yang setiap ahadnya selalu kelihatan paling ceria di antara ibu yang lain. Ibu yang biasanya membawa putra kecilnya, hatta, dalam dekap lantunan huruf hijaiyah. Pertama kami masuk, dengan sigap bu wiji merapikan ruang tamu yang beralaskan tikar dengan penerangan yang lumayan minim. Lalu aku mendengar dari bu kustiari, bahwa suami bu wiji sudah meninggal dan memiliki cukup banyak anak. Saat bu wiji kembali ke ruang tamu, ternyata beliau telah memesan teh hangat bagi kami yang berkunjung ke rumahnya.
Ibu yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sapu di daerah galaxy ini pun bertutur,”Saya senang sekali bisa dikunjungi kakak-kakak.”
Suatu hal yang sama sekali tak terbersit dalam pikirku, bahwa ibu-ibu ini juga butuh diperhatikan. Tak hanya dengan materi, namun juga hal-hal yang tak nampak. Dibalik keceriaan dan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya, ibu wiji telah mengajarkan kami ketulusan dan syukur yang tiada terkira pada Sang Maha segalanya. Bagaimana tidak, dengan kondisi rumah yang selalu banjir saat hujan tiba ditambah dengan tujuh anak yang harus dididiknya tanpa pendamping, bu wiji senantiasa melukis wajah bahagia di tiap kesempatan.
Dalam sebuah seminar muslimah, pembicara bertutur,”Mempersiapkan seorang calon ibu itu saat dia masih dikandungan.” Dalam hati aku bertanya, “Maksudnya bagaimana ya? ”. Tanpa kusangka, sang pembicara melanjutkan, “ Karena dengan mempersiapkan seorang ibu dari kandungan melalui penjagaan kesehatan dan perawatan lainnya, maka kita sama dengan mempersiapkan satu generasi.”
Perkataan yang membuatku cukup tertohok. Itulah wanita, berperan sebagai anak ketika masih bersama orang tuanya, berperan sebagai istri ketika bersama suaminya, dan berperan sebagi ibu ketika bersama anaknya. Tak mengherankan ketika Rasulullah ditanya oleh sahabatnya beliau menjawab ibu sebanyak tiga kali, baru kemudian ayah.
Terkadang kita beradu pendapat dengan ibu, entah tentang kuliah, pekerjaan, cita-cita dan lain-lain. Tapi dialah ibumu, jangan biarkan diri ini menjadi malin kundang di abad 21. Seperti yang disampaikan pada surat Al Israa’ ayat 23:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”
Ibu, kata yang singkat, padat, dan jelas. Namun dibalik kata itu tersimpan sejuta makna yang tak terungkapkan. Makna yang hanya bisa dirasakan ketika kau benar-benar merindukannya. Ibu mengajariku tentang arti kesabaran, kesetiaan, dan ketekunan sebagai wanita. Ibuku, inspirasiku.
Oh, ibu
Ibu melindungi aku
Jauhkan aku dari bahaya
Sampai kapanpun akan kubawa
Sampai tiba saatnya berbagi
Sebuah jinggle iklan sabun tentang ibu, semoga ketika saatnya kelak, aku senantiasa mengingat apa yang diajarkan ibu padaku. Sehingga suatu saat ada yang berkata padaku, “Ibu, aku menyayangimu karena Allah”. Sebuah kalimat yang juga pernah kuungkapkan pada ibu meskipun melalui pesan singkat.Terima kasih Allah, melalui ibuku Engkau mengajarkan banyak hal.
[_imm]
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment